Rabu, 30 Desember 2015

KAMPUNG BUDAYA SETU BABAKAN



TUGAS KELOMPOK
NAMA : CIARA AMALINA ADANI (1121501)
               MEUTIA NABILA HAWA (14215150)
               NIA YUSNIA SARI (15215037)
               PUTRI TUNJUNG SARI (15215464)
               TIWI ARDIAN PUTRI (16215916)

SETU BABAKAN
 
 







Setu Babakan atau Danau Babakan terletak di Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Kotamadya Jakarta Selatan, Indonesia dekat Depok yang berfungsi sebagai pusat Perkampungan Budaya Betawi, suatu area yang diperuntukkan untuk pelestarian warisan budaya Jakarta, yaitu budaya asli Betawi.






Setu Babakan adalah sebuah kawasan perkampungan yang ditetapkan Pemerintah Jakarta sebagai tempat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi. Perkampungan yang terletak di selatan Kota Jakarta ini merupakan salah satu objek wisata yang menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana khas pedesaan atau menyaksikan budaya Betawi asli secara langsung. 






Setu Babakan adalah kawasan yang memiliki nuansa yang masih kuat dan banyak sisi budaya, seni pertunjukan, jajanan, busana   maupun bentuk rumah Betawi. Perkampungan yang luasnya 289 Hektar, 65 hektar di antaranya adalah milik pemerintah di mana yang baru dikelola hanya 32 hektar. Perkampungan  ini didiami setidaknya 3.000 kepala keluarga. Sebagian besar penduduknya adalah orang asli Betawi yang sudah turun temurun tinggal di daerah tersebut. Sedangkan sebagian kecil lainnya adalah para pendatang.
Setu Babakan, sebagai sebuah kawasan Cagar Budaya Betawi. Peresmiannya sebagai kawasan cagar budaya dilakukan pada tahun 2004,  bersamaan dengan peringatan HUT DKI Jakarta ke-474. Penetapan Setu Babakan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun 1996. 



Sebagai sebuah kawasan cagar budaya, Perkampungan Setu Babakan hingga saat ini telah dilengkapi fasilitas-fasilitas umum, seperti tempat ibadah, panggung pertunjukan seni, tempat bermain anak-anak, teater terbuka, wisma, kantor pengelola, galeri, dan pertokoan suvenir. Dengan fasilitas ini pengunjung dapat berfoto menggunakan busana adat khas Betawi dengan lokasi pemotretan yang disesuaikan dengan keinginan pengunjung.

Selasa, 29 Desember 2015

9. MANUSIA DAN KEGELISAHAN




MANUSIA DAN KEGELISAHAN


    1.   Kegelisahan dan Sumber-Sumbernya

            Pada prinsipnya manusia merupakan makluk yang diarahkan oleh motivasi dan cita-citanya. Hampir semua tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai usaha untuk memuaskan hasrat biologis mereka. Kegelisahan disini diartikam suatu kondisi dimana orang menghadapi halangan atau rintangan dalam mengatasi rintangan tersebut.
Kegelisahan yang tak terhindarkan disebabkan oleh kompleksitas manusia, lingkungan dimana ia tinggal, dan keterbatasan fisik dan jiwanya.

Kegelisahan dan kompleksitas manusia
            Motif-motif perbuatan yang mendorong dan mengarahkan tingkah laku tidak timbul dan dapat mencapai pemuasan dengan cara yang sederhana. Sebaliknya motif-motif itu terjadi dalam keadaaan ruwet, bahkan kadang-kadang penuh kekacauan. Motif yang berbeda-beda bersaing satu sama lain, dan pemuasan terhadap motif pertama akan disusul dengan datangnya motif yang lain.

Kegelisahan dan kondisi lingkungan
            Pemuasan yang menyeluruh pada suatu motif juga hampir tidak mungkin sebab tujuan motif itu hanya bisa dicapai menyeluruh jika sesuai dengan apa yang tersedia dilingkungan kita. Pada lingkungan tertentu makanan mungkin tak tersedia untuk memuaskan rasa lapar, karena orang itu tak mampu membelinya, atau kawan-kawan orang itu tidak memperhatikannya atau mengaguminya yang dapat digunakan untuk memuaskan keinginanannya akan status, keakraban, cinta dan sebagainya.

Kegelisahan dan ketidakmampuan penyesuaian bertindak
            Alasan ketiga terjadinya kegelisahanyang tak terelakan ialah kenyataan bahwa pencapaian tujuan tergantung pada keefektifan dalam penyesuaian; hasil hanya dapat dicapai jika seseorang mempunyai kebiasaan yang sesuai untuk memanipulasi lingkungan.

Keadaan fisik
            Keadaan fisik merupakan faktor yang utama sebagai kegelisahan manusia. Sejak bayi lahir ia selalu menghadapi kenyataan bahwa ia selalu terhalang keinginannya karena sebab-sebab fisik. Bayi tidak mempunyai koordinasi otot untuk mengatasi halangan fisik, alat pancaindera dan intelektualnya belum berkembang, bahkan ia tidak dapat memperhitungkan jarak suatu objek dan ia sendiri. Ia menjadi sangat tergantung kepada orang lain. Karena masa ketidakberdayaan itu cukup lama, kegelisahan sudah merupakan kawan intim manusia sejak lahir.
          Pada masaa dewasa ketidakmampuan fisik bukan merupakan sumber kegelisahan yang pokok, kecuali pada masa epidemic, banjir, gempa bumi dan bencana lainnya.

Lingkungan sosial
            Sementara manusia dapat mengurangi sumber kegelisahan yang pertama, ia tidak dapat melakukan itu pada sebab yang kedua ini. Sumber kegelisahan manusia ikut berubah sebagaimana pembangunan teknologi dan ilmu manusia itu sendiri. Manusia satu dengan lainnya selalu tergantung satu sama lainnya. Sehingga jika orang satu dengan lainnya tidak dapat saling memberi seperti yang diharapkan maka hal ini akan menjadi sumber kegelisahan.

Motif yang bertentangan
            Sumber kegelisahan yang paling rumit ialah pertentangan antara dua motif atau lebih. Hakikat dari konflik antar motif ini ialah bahwa seorang individu tak dapat mencapai tujuannya tanpa harus mengorbankan motif lain yang ia miliki. Kegelisahan ini merupakan kegelisahan yang sudah “built in” karena individu itu kecenderungan bertindaknya saling bertentangan sendiri.
          Menurut Kurt Lewin (1935) ada tiga tipe dasar konflik yaitu : Approach-approach, avoidance-avoidance dan approach avoidance.

    2.   Makna Kegelisahan

            Kegelisahan berasal dari kata gelisah. Gelisah artinya rasa tidak tentram di hati atau merasa selalu khawatir, tidak dapat tenang, tidak sabar lagi (menanti), cemas dan sebagainya. Kegelisahan artinya perasaan gelisah, khawatir, cemas atau takut dan jijik. Rasa gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang menyatakan bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir atau takut.
Alasan mendasar mengapa manusia gelisah ialah karena manusia memiliki hati dan perasaan. Bentuk kegelisahannya berupa keterasingan, kesepian, dan ketidakpastian. Perasaan-perasaan semacam ini silih berganti dengan kebahagiaan, kegembiraan, dan kehidupan manusia.

Perasaan cemas menurut Sigmund Freud ada tiga macam, yaitu :
1.    Kecemasan Obyektif. Kegelisahan ini mirip dengan kegelisahan terapan, seperti anaknya belumpulang, orang tua sakit keras, dan sebagainya.
2.    Kecemasan Neutorik (saraf). Hal ini timbul akibat pengamatan tentang bahaya dari naluri. Contohnya dalam penyesuaian diri dengan lingkungan, rasa takut yang irrasional semacam fobia, rasa gugup dan sebagainya.
3.    Kecemasan moral. Hal ini muncul dari emosi diri sendiri seperti perasaan iri, dengki, dendam, hasud, marah, rendah diri, dan sebagainya.

3.Makna Keterasingan

Keterasingan berasal dari kata terasing, dan kata itu adalah dari kata dasar asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang, sehingga kata asing berarti, tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain, atau terpencil. Jadi keterasingan berarti hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan, terpencil, atau terpisah dari yang lain.
Terasing atau keterasingan adalah bagian hidup manusia. Sebentar atau lama orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan, sudah tentu dengan sebab dan kadar yang berbeda satu sama lain.   

Sebab-sebab keterasingan

Sikap rendah diri
            Sikap rendah diri menurut Alex Gunur adalah sikap kurang baik. Sikap ini menganggap atau merasa dirinya selalu atau tidak berharga, tidak atau kurang laku, tidak atau kurang mampu di hadapan orang lain. Sehingga merasa dirinya lebih rendah dari orang lain.

     a.     Keterasingan Karena Cacat Fisik
Cacat fisik itu tidak perlu membuat hidup terasing karena cacat fisik itu kehendak tuhan. Namun manusia lain jalan pikirannya merasa malu anaknya atau cucunya yang cacat fisik, maka disingkirkan anak tersebut dalam pergaulan ramai, hidup dalam keterasingan.

     b.    Keterasingan karena sosial ekonomi
Ekonomi kuat atau lemah adalah anugerah dari tuhan. Orang tidak boleh membanggakan kekayaan. Tetapi orang tidak boleh pula merasa rendah diri karena keadaan ekonomi yang sangat rendah, namun di dalam kenyataan lain , orang-orang yang lemah ekonominya sering kali merasa rendah diri, akibat orang-orang yang kaya sering membanggakan kekayaannya, meskipun tidak disengaja.

     c.     Keterasingan karena rendah pindidikan
Banyak juga orang yang merasa rendah diri, karena rendahnya pendidikan, berakibat kurang dapat mengikuti jalan pikiran orang yang berpendidikan tinggi dan banyak pengalaman.
 Dalam pergaulan orang-orang yang berpendidikan rendah dan kurang pengalaman biasanya menyendiri, mengasingkan diri, karena serba sulit menempatkan diri.
          Ingin bertanya takut salah, apa yang ditanyakan, juga takut ditanya, takut jawabannya tak benar. Akibatnya ia menjauhkan diri dari pergaulan.

     d.    Keterasingan Karena Perbuatannya
Orang terpaksa hidup dalam keterasigan karena merasa malu,
dunia rasanya sempit, bila Nampak orang ingin mukanya ditutupi. Itu semua adalah akibat dari perbuatannya, yang tidak bisa diterima oleh masyarakat lingkungannya.
  
4.   Makna Kesepian

            Kesepian berasal dari kata sepi, artinya sunyi, lengang, tidak ramai, tidak ada orang atau kendaraan, tidak banyak tamu, tidak banyak pembeli, tidak ada apa-apa dan sebagainya. Kesepiaan adalah keadaan sepi atau hal sepi.
Setiap orang pernah mengalami kesepian karena kesepian bagian hidup manusia, lama atau sebentar kesepian ini bergantung terhadap mental orang dan kasus penyebabnya.

Sebab-sebab terjadinya kesepian
            Bermacam-macam penyebab terjadinya kesepian. Frustasi pun dapat mengakibatkan kesepian. Yang bersangkutan tidak mau diganggu , ia lebih senang dalam keadaan sepi, tidak suka bergaul, dan sebagainya. Ia lebih senang hidup sendiri

5.   Makna Ketidakpastian

            Ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu (pikirannya) atau mendua, atau apa yang dipikirkan tidak searah, kemana tujuannya tidak jelas. Itu semua adalah akibat pikirannya tidak dapat konsentrasi. Ketidakkonsentrasian itu disebabkan oleh berbagai sebab, yang jelas pikirannya kacau.
            Ketidakpastian atau ketidaktentuan adalah bagian hidup manusia. Setiap orang hidup pernah mengalaminya. Bahkan anak kecil sekalipun pernah mengalaminya, misalnya, ketika anak kecil ditinggal ibunya, ia menangis kebingungan. Kebingungan itu menunjukan adanya ketidakpastian, seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

Sebab-sebab terjadinya ketidakpastian
            Orang yang pikirannya terganggu tidak dapat lagi berpikir secara teratur, logis ataupun mengambil kesimpulan. Menurut Siti Meichati dalam bukunya kesehatan mental ada beberapa sebab orang tak dapat berpikir dengan pasti. Sebab-sebab itu ialah :
·       Obsesi
Obsesi merupakan gejala neurose jiwa, yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus-menerus, biasanya tentang hal-hal yang tak menyenangkan, atau sebab-sebab tak diketahui oleh penderita.
·       Phobia
Ialah rasa ketakutan yang tak terkendalikan, tidak normal, kepada suatu hal atau kejadian, tanpa diketahui sebab-sebabnya.
·       Kompulsi
Ialah adanya keragu-raguan yang sangat mengenai apa yang telah dikerjakan, sehingga ada dorongan yang tak disadari untuk selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang serupa berulang kali (neurose).
·       Histeria
Ialah  neurose jiwa yang disebabkan oleh tekanan mental, kekecewaan, pengalaman pahit yang menekan, kelemahan syaraf, tidak mampu menguasai diri, atau sugesti dari sikap orang lain.
·       Delusi
Menunjukan pikiran yang tidak beres, karena berdasarkan suatu keyakinan palsu. Tidak dapat memakai akal sehat. Tidak ada dasar kenyataan. Dan tidak sesuai dengan pengalaman.
·       Halusinasi
Khayalan yang terjadi tanpa rangsangan pancaindra. Seperti para prewangan (medium) dapat digolongkan pada pengalaman halusinasi. Dengan sugesti diri orang dapat juga berhalusinasi.
·       Keadaan Emosi
Dalam keadaan tertentu sesesorang sangat terpengaruh oleh emosinya. Ia sampai pada keseluruhan pribadinya : gangguan pada nafsu makan, pusing-pusing, muka merah, nadi cepat, keringat, tekanan darah tinggi/lemah.





Sumber : Joko Tri Prasetya dkk., Ilmu Budaya Dasar,Rineka Cipta, Jakarta,2013

Rabu, 23 Desember 2015

8. MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB




MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB

     1.     Manusia dan Tanggung Jawab
Pengertian yang kita peroleh sehari-hari untuk kata “pertanggungjawaban” dari kata “tanggung jawab” yaitu beban psikis yang melandasi pelaksanaan kewajiban dari tugas tertentu.
Kesanggupan seseorang terhadap suatu tugas wajib atau kemudian disebut kewajiban, akan berakibat suatu celaan atau menerima akibat tertentu jika tidak dilaksanakan
Dalam agama Islam ada tugas yang bersifat :
·       Wajib, artinya suatu tugas yang “harus” dilaksanakan, atau tugas yang tidak boleh ditinggalkan kalau tidak dikerjakan menerima sanksi berupa “dosa” bahkan dapat dianggap meninggalkan perintah “Allah”
·       Sunnah, artinya tugas atau perintah Allah yang bila dikerjakan mendapat pahala sedang jika tidak dikerjakan tidak berdosa.
Biasanya dapat kita ketahui lahirnya kewajiban-kewajiban ini adalah karena adanya hubungan hidup manusia antara :
o   Manusia dengan manusia lain, dan
o   Manusia dengan Tuhannya
      Disamping kewajiban social kemasyarakatan, keluarga dan ke Tuhannya ada pula kewajiban yang datangnya dari dalam diri sendiri. Ini biasanya dikaitkan dengan nilai-nilai yang diterima dan diintegrasikan dalam dirinya, kemudian dijadikan harapan-harapan untuk dicapainya.
Telah diketahui Bersama bahwa kebutuhan hidup manusia meliputi:
1.    Kebutuhan hidup jasmani
2.    Kebutuhan hidup kejiwaan dan rohani, serta
3.    Kebutuhan hidup berteman atau sosial kemasyarakatan.
Banyak karya-karya, cerpen dan novel mengetengahkan tema tema yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas wajib dan tanggung jawab.

     2.    Makna Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku dan perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Macam tanggung jawab
a.   Tanggung Jawab Kepada Keluarga
Masyarakat kecil adalah keluarga. Keluarga adalah suami, istri, ayah, ibu, dan anak-anak. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan dan kehidupan.
     b.      Tanggung Jawab Kepada Masyarakat
Suatu kenyataan pula bahwa manusia adalah makhluk social. Manusia merupakan anggota masyarakat. Karena itu, dalam berpikir, bertingkah laku, berbicara, dan sebagainya manusia terikat oleh masyarakat. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.
     c.       Tanggung Jawab Kepada Bangsa dan Negara
Suatu kenyataan lagi, bahwa tiap manusia adalah warga Negara suatu Negara. Dala berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh Negara. Manusia tidak dapat berbuat semua sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah maka ia harus bertanggung jawab kepada Negara.
    d.      Tanggung Jawab Kepada Tuhan
Manusia ada tidak dengan sendirinya, tetapi merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan, manusia dapat mengembangkan diri sendiri dengan sarana-sarana pada dirinya yaitu pikiran, perasaan, seluruh anggota tubuhnya, dan alam sekitarnya.

     3.    Makna Pengabdian
Pengabdian adalah perbuatan baik berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan antara lain kepada raja, cinta, kasih sayang, hormat, atau suatu ikatan dan semua dilakukan dengan ikhlas.
 Timbulnya pengabdian itu hakikatnya ada rasa tanggung jawab. Apabila kita dari pagi sampai sore hari di beberapa tempat untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga kita, itu berarti mengabdi kepada keluarga karena kasih sayang kita kepada keluarga.
·       Pengabdian Kepada Keluarga
Pengabdian kepada keluarga ini dapat berupa pengabdian kepada istri dan anak-anak, istri kepada suami dan anak-anaknya atau anak-anak kepada orang tua.
·       Pengabdian Kepada Masyarakat
Demi masyarakat, anggota masyarakat harus mau mengbdi diri kepada masyarakat. Ia harus mempunyai rasa tanggung awab kepada masyarakat. Oleh karena nama baik tempat ia tinggal, membawa nama baiknya pula. Bila remaja masyarakat kampungnya terkenal dengan “remaja berandal” suka berkelahi, menggangu orang, atau merampas hak orang lain maka bagaimanapun juga ia akan merasa malu.
·       Pengabdian Kepada Negara
Manusia pada hakikatnya adalah bagian dari suatu bangsa artau warga Negara suatu Negara. Karena itu seseorang wajib menvintai bangsa dan negaranya. Mencintai ini biasnya diwujudkan dalam bentuk pengabdian.
·       Pengabdian Kepada Tuhan
Pegabdian adalah perbuatan manusia baik yang berupa pikiran, pendapat,atau tenaga sebagai perwujudan kesetiaan cinta, kasih saying, hormat, atau suatu ikatan dan semua dilakukan secara ikhlas. Pengabdian pada dasarnya adalah rasa tanggung jawab.

     4.    Makna Kesadaran
Kesadaran adalah keinsyafan akan perbuatannya. Sadar artinya merasa, tahu atau ingat (kepada keadaan yang sebenarnya), keadaan ingat akan dirinya, ingat kembali, siuman, bangun, tahu dan mengerti, misalnya rakyat telah sadar akan politik.
Jadi kesadaran adalah hati yang telah terbuka atau pikran yang telah terbuka tentang apa yang telah dikerjakan. Kesadaran berasal dari kata sadar artinya tahu, mengerti, ingat, terbuka hati / pikirannya untuk berbuat sesuai dengan kata hatinya.
Dalam berbuat, kadang-kadang oarng hanya melanggar satu norma, kadang-kadang sekaligus melanggar dua tuga norma, bahkan ada yang langsung melanggar tiga norma. Kesadaran moral amat penting untuk diperhatikan orang karena pelanggaran moral dapat berakibat merusak nama. Oleh ini tidak berarti bahwa kesadaran yang lain tidak penting. Semua kesadaran penting, karena ketidaksadaran adalah salah satu hal yang dapat menggoncangkan atau sekurang-kurangnya membuat kepincangan dalam hidup.
Pada umumnya orang sadar akan perbuatannya tetapi tidak disadari, apakah perbuatan itu melanggar norma sopan santun norma hokum atau norma moral. Kalau orang itu ingin berbuat, berbuat sajalah ia. Orang yang berbuat tanpa kesedaran ini amat sedikit jumlahnya. Hal itu buisa terjadi karena kekeliruan, tetapi mungkin juga karena berbuat dalam keadaan tidak sadar atau anak kecil. Karena itu orang tersebut dapat bebas dari hukuman.

      5.    Makna Pengorbanan
Pengorbanan berasal dari kata korban, artinya berikan secara ikhlas :harta benda, wajtu, tenaga, pikiran, bahkanmungkin nyawa, demi cintanya atau ikatannya dengan sesuatu atau demi kesetiaan, kebenaran.
·       Pengorbanan kepada keluarga
Pada hakikatnya manusia hidup berkeluarga. Dasar hidup berkeluarga adalah kasih saying. Kasih saying memerlukan pengorbanan. Tanpa pengorbanan tidak ada kasih sayangn atau cinta.
·       Penorbanan kepada masyarakatm
Manusia adalah makhluk sosial, karena manusia tidak dapat hidup sendiri,dan saling membutuhkan. Sebagai makhluk sosial manusia merasa teikat dengan masyarakatnya. Karna itu demi pengabdiannya kepada masyarakat ia tidak bebas dari pengorbanan.
·       Pengorbanan kepada bangsa dan Negara
Demi Negara tiap orang tidak sayang kehilangan harta benda, bagian badan, bahkan nyawapun dipertaruhkan dengan ikhlas. Kapan saja dan dimana saja berada mereka berkewajiban membela Negara.
·       Pengorbanan karena kebenaran
Menurut kodratnya manusia mempunyai hak hidup dan hak kemerdekaan hidup. Oleh karena itu penjajahan di atas bumi bertentangan dengan kodrat alam. Demi membela kebenaran ini biasanya banyak korban berjatuhan.
·       Pengorbanan kepada agama
Berkorban kepada agama berarti juga berkorban demi cintanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

     Pengorbanan ialah pemberian secara ikhlas yang berupa pikiran, pendapat, harta, waktu, tenaga bahkan mungkin nyawa demi cinta, kesetiaan, ikatan sesuatu, kebenaran, dan mungkin juga kesetiakawanan.
    Manusia hidup sebagai pribadi, sebagai bangsa dan warga Negara suatu Negara, dan juga sebagai makhluk ciptaan Tuhan: karena itu dalam kehidupan ada bermacam-macam jenis pengorbanan.
Pengorbanan demi keluarga, pengorbanan demi hidup di masyarakat, pengorbanan demi cinta kepada bangsa Negara, pengorbanan demi kebenaran  dan pengorbanan demi cinta agama dan cinta kepada Tuhan, semua itu tidak lepas dari kehidupan manusia.



sumber :
Joko Tri Prasetya, Drs dkk., Ilmu Budaya Dasar, Rineka Cipta, Jakarta, 2013