Selasa, 29 Desember 2015

9. MANUSIA DAN KEGELISAHAN




MANUSIA DAN KEGELISAHAN


    1.   Kegelisahan dan Sumber-Sumbernya

            Pada prinsipnya manusia merupakan makluk yang diarahkan oleh motivasi dan cita-citanya. Hampir semua tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai usaha untuk memuaskan hasrat biologis mereka. Kegelisahan disini diartikam suatu kondisi dimana orang menghadapi halangan atau rintangan dalam mengatasi rintangan tersebut.
Kegelisahan yang tak terhindarkan disebabkan oleh kompleksitas manusia, lingkungan dimana ia tinggal, dan keterbatasan fisik dan jiwanya.

Kegelisahan dan kompleksitas manusia
            Motif-motif perbuatan yang mendorong dan mengarahkan tingkah laku tidak timbul dan dapat mencapai pemuasan dengan cara yang sederhana. Sebaliknya motif-motif itu terjadi dalam keadaaan ruwet, bahkan kadang-kadang penuh kekacauan. Motif yang berbeda-beda bersaing satu sama lain, dan pemuasan terhadap motif pertama akan disusul dengan datangnya motif yang lain.

Kegelisahan dan kondisi lingkungan
            Pemuasan yang menyeluruh pada suatu motif juga hampir tidak mungkin sebab tujuan motif itu hanya bisa dicapai menyeluruh jika sesuai dengan apa yang tersedia dilingkungan kita. Pada lingkungan tertentu makanan mungkin tak tersedia untuk memuaskan rasa lapar, karena orang itu tak mampu membelinya, atau kawan-kawan orang itu tidak memperhatikannya atau mengaguminya yang dapat digunakan untuk memuaskan keinginanannya akan status, keakraban, cinta dan sebagainya.

Kegelisahan dan ketidakmampuan penyesuaian bertindak
            Alasan ketiga terjadinya kegelisahanyang tak terelakan ialah kenyataan bahwa pencapaian tujuan tergantung pada keefektifan dalam penyesuaian; hasil hanya dapat dicapai jika seseorang mempunyai kebiasaan yang sesuai untuk memanipulasi lingkungan.

Keadaan fisik
            Keadaan fisik merupakan faktor yang utama sebagai kegelisahan manusia. Sejak bayi lahir ia selalu menghadapi kenyataan bahwa ia selalu terhalang keinginannya karena sebab-sebab fisik. Bayi tidak mempunyai koordinasi otot untuk mengatasi halangan fisik, alat pancaindera dan intelektualnya belum berkembang, bahkan ia tidak dapat memperhitungkan jarak suatu objek dan ia sendiri. Ia menjadi sangat tergantung kepada orang lain. Karena masa ketidakberdayaan itu cukup lama, kegelisahan sudah merupakan kawan intim manusia sejak lahir.
          Pada masaa dewasa ketidakmampuan fisik bukan merupakan sumber kegelisahan yang pokok, kecuali pada masa epidemic, banjir, gempa bumi dan bencana lainnya.

Lingkungan sosial
            Sementara manusia dapat mengurangi sumber kegelisahan yang pertama, ia tidak dapat melakukan itu pada sebab yang kedua ini. Sumber kegelisahan manusia ikut berubah sebagaimana pembangunan teknologi dan ilmu manusia itu sendiri. Manusia satu dengan lainnya selalu tergantung satu sama lainnya. Sehingga jika orang satu dengan lainnya tidak dapat saling memberi seperti yang diharapkan maka hal ini akan menjadi sumber kegelisahan.

Motif yang bertentangan
            Sumber kegelisahan yang paling rumit ialah pertentangan antara dua motif atau lebih. Hakikat dari konflik antar motif ini ialah bahwa seorang individu tak dapat mencapai tujuannya tanpa harus mengorbankan motif lain yang ia miliki. Kegelisahan ini merupakan kegelisahan yang sudah “built in” karena individu itu kecenderungan bertindaknya saling bertentangan sendiri.
          Menurut Kurt Lewin (1935) ada tiga tipe dasar konflik yaitu : Approach-approach, avoidance-avoidance dan approach avoidance.

    2.   Makna Kegelisahan

            Kegelisahan berasal dari kata gelisah. Gelisah artinya rasa tidak tentram di hati atau merasa selalu khawatir, tidak dapat tenang, tidak sabar lagi (menanti), cemas dan sebagainya. Kegelisahan artinya perasaan gelisah, khawatir, cemas atau takut dan jijik. Rasa gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang menyatakan bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir atau takut.
Alasan mendasar mengapa manusia gelisah ialah karena manusia memiliki hati dan perasaan. Bentuk kegelisahannya berupa keterasingan, kesepian, dan ketidakpastian. Perasaan-perasaan semacam ini silih berganti dengan kebahagiaan, kegembiraan, dan kehidupan manusia.

Perasaan cemas menurut Sigmund Freud ada tiga macam, yaitu :
1.    Kecemasan Obyektif. Kegelisahan ini mirip dengan kegelisahan terapan, seperti anaknya belumpulang, orang tua sakit keras, dan sebagainya.
2.    Kecemasan Neutorik (saraf). Hal ini timbul akibat pengamatan tentang bahaya dari naluri. Contohnya dalam penyesuaian diri dengan lingkungan, rasa takut yang irrasional semacam fobia, rasa gugup dan sebagainya.
3.    Kecemasan moral. Hal ini muncul dari emosi diri sendiri seperti perasaan iri, dengki, dendam, hasud, marah, rendah diri, dan sebagainya.

3.Makna Keterasingan

Keterasingan berasal dari kata terasing, dan kata itu adalah dari kata dasar asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang, sehingga kata asing berarti, tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain, atau terpencil. Jadi keterasingan berarti hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan, terpencil, atau terpisah dari yang lain.
Terasing atau keterasingan adalah bagian hidup manusia. Sebentar atau lama orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan, sudah tentu dengan sebab dan kadar yang berbeda satu sama lain.   

Sebab-sebab keterasingan

Sikap rendah diri
            Sikap rendah diri menurut Alex Gunur adalah sikap kurang baik. Sikap ini menganggap atau merasa dirinya selalu atau tidak berharga, tidak atau kurang laku, tidak atau kurang mampu di hadapan orang lain. Sehingga merasa dirinya lebih rendah dari orang lain.

     a.     Keterasingan Karena Cacat Fisik
Cacat fisik itu tidak perlu membuat hidup terasing karena cacat fisik itu kehendak tuhan. Namun manusia lain jalan pikirannya merasa malu anaknya atau cucunya yang cacat fisik, maka disingkirkan anak tersebut dalam pergaulan ramai, hidup dalam keterasingan.

     b.    Keterasingan karena sosial ekonomi
Ekonomi kuat atau lemah adalah anugerah dari tuhan. Orang tidak boleh membanggakan kekayaan. Tetapi orang tidak boleh pula merasa rendah diri karena keadaan ekonomi yang sangat rendah, namun di dalam kenyataan lain , orang-orang yang lemah ekonominya sering kali merasa rendah diri, akibat orang-orang yang kaya sering membanggakan kekayaannya, meskipun tidak disengaja.

     c.     Keterasingan karena rendah pindidikan
Banyak juga orang yang merasa rendah diri, karena rendahnya pendidikan, berakibat kurang dapat mengikuti jalan pikiran orang yang berpendidikan tinggi dan banyak pengalaman.
 Dalam pergaulan orang-orang yang berpendidikan rendah dan kurang pengalaman biasanya menyendiri, mengasingkan diri, karena serba sulit menempatkan diri.
          Ingin bertanya takut salah, apa yang ditanyakan, juga takut ditanya, takut jawabannya tak benar. Akibatnya ia menjauhkan diri dari pergaulan.

     d.    Keterasingan Karena Perbuatannya
Orang terpaksa hidup dalam keterasigan karena merasa malu,
dunia rasanya sempit, bila Nampak orang ingin mukanya ditutupi. Itu semua adalah akibat dari perbuatannya, yang tidak bisa diterima oleh masyarakat lingkungannya.
  
4.   Makna Kesepian

            Kesepian berasal dari kata sepi, artinya sunyi, lengang, tidak ramai, tidak ada orang atau kendaraan, tidak banyak tamu, tidak banyak pembeli, tidak ada apa-apa dan sebagainya. Kesepiaan adalah keadaan sepi atau hal sepi.
Setiap orang pernah mengalami kesepian karena kesepian bagian hidup manusia, lama atau sebentar kesepian ini bergantung terhadap mental orang dan kasus penyebabnya.

Sebab-sebab terjadinya kesepian
            Bermacam-macam penyebab terjadinya kesepian. Frustasi pun dapat mengakibatkan kesepian. Yang bersangkutan tidak mau diganggu , ia lebih senang dalam keadaan sepi, tidak suka bergaul, dan sebagainya. Ia lebih senang hidup sendiri

5.   Makna Ketidakpastian

            Ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu (pikirannya) atau mendua, atau apa yang dipikirkan tidak searah, kemana tujuannya tidak jelas. Itu semua adalah akibat pikirannya tidak dapat konsentrasi. Ketidakkonsentrasian itu disebabkan oleh berbagai sebab, yang jelas pikirannya kacau.
            Ketidakpastian atau ketidaktentuan adalah bagian hidup manusia. Setiap orang hidup pernah mengalaminya. Bahkan anak kecil sekalipun pernah mengalaminya, misalnya, ketika anak kecil ditinggal ibunya, ia menangis kebingungan. Kebingungan itu menunjukan adanya ketidakpastian, seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

Sebab-sebab terjadinya ketidakpastian
            Orang yang pikirannya terganggu tidak dapat lagi berpikir secara teratur, logis ataupun mengambil kesimpulan. Menurut Siti Meichati dalam bukunya kesehatan mental ada beberapa sebab orang tak dapat berpikir dengan pasti. Sebab-sebab itu ialah :
·       Obsesi
Obsesi merupakan gejala neurose jiwa, yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus-menerus, biasanya tentang hal-hal yang tak menyenangkan, atau sebab-sebab tak diketahui oleh penderita.
·       Phobia
Ialah rasa ketakutan yang tak terkendalikan, tidak normal, kepada suatu hal atau kejadian, tanpa diketahui sebab-sebabnya.
·       Kompulsi
Ialah adanya keragu-raguan yang sangat mengenai apa yang telah dikerjakan, sehingga ada dorongan yang tak disadari untuk selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang serupa berulang kali (neurose).
·       Histeria
Ialah  neurose jiwa yang disebabkan oleh tekanan mental, kekecewaan, pengalaman pahit yang menekan, kelemahan syaraf, tidak mampu menguasai diri, atau sugesti dari sikap orang lain.
·       Delusi
Menunjukan pikiran yang tidak beres, karena berdasarkan suatu keyakinan palsu. Tidak dapat memakai akal sehat. Tidak ada dasar kenyataan. Dan tidak sesuai dengan pengalaman.
·       Halusinasi
Khayalan yang terjadi tanpa rangsangan pancaindra. Seperti para prewangan (medium) dapat digolongkan pada pengalaman halusinasi. Dengan sugesti diri orang dapat juga berhalusinasi.
·       Keadaan Emosi
Dalam keadaan tertentu sesesorang sangat terpengaruh oleh emosinya. Ia sampai pada keseluruhan pribadinya : gangguan pada nafsu makan, pusing-pusing, muka merah, nadi cepat, keringat, tekanan darah tinggi/lemah.





Sumber : Joko Tri Prasetya dkk., Ilmu Budaya Dasar,Rineka Cipta, Jakarta,2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar